"Kilauan Tatapan Pertama: Ketika Mata Kita Bertemu"
Sumber : pinterest.com
Di suatu kota yang telah terbentuk kisah indah di dalam nya, akan tetapi tersembunyi cerita cinta yang sedikit menarik. Tentang dua orang yang tak pernah terduga akan berjumpa dan ada sedikit kemungkinan akan bersatu. Namun, seperti halnya takdir yang telah ditentukan mereka berdua pun diatur sedemikian rupa.
Pertemuan mereka pertama kali terjadi di sebuah kedai kopi yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Kedai kopi itu hanyalah kedai kecil yang memiliki pencahayaan baik dan aroma kopi yang mengusai ruangan sehingga menciptakan suasana yang nyaman. Di sudut kedai seorang wanita cantik dengan baju bermotif bunga serta rok berwarna hitam terduduk manis dengan pandangan terpaku pada layar laptop. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatianya dari sana, kecuali suara getaran pintu terbuka yang merambat ke telinganya.
Tiba-tiba, suara pintu kedai terbuka menggema di ruangan, mengisyaratkan kedatangan pengunjung baru. Banyak mata tertuju pada pintu, hal itu berhasil memikat Jingga gadis cantik yang duduk di sudut kedai.
Ia adalah pemandangan yang berhasil menarik perhatian, mengundang mata untuk menelusuri setiap detail yang menjadikan begitu menonjol di antar kerumunan. Pria muda bernama Langit, merasa dari kejauhan ada mata yang terus tertuju melihat kearah dirinya. Langit menoleh ke arah wanita yang berada di sudut kanan kedai dan akhirnya tatapan mata itu tak sempat Jingga hindari, mereka berhasil terjebak dalam pandangan satu sama lain.
"Mas.." ucap pelayan yang berhasil membangunkan Langit dari lamunannya.
"Eehh iya, mbak. Saya mau pesan Americano satu." ujar Langit sambil mengamati menu dihadapanya.
"Ada yang ingin ditambah, Mas?" tanya pelayan.
"Chocho cake deh, boleh satu" jawab Langit sambil tersenyum.
Lalu, pelayan itu mengangguk ramah dan mencatatan kembali pesanan Langit dengan cermat. Sembari Langit menunggu untuk membayar, kali ini dia merasakan kembali tatapan lembut dari seorang gadis yang duduk di sudut kanan kedai yang tengah memandangn kearahnya. Setelah selesai membayar kepada pelayan kafe, Langit berjalan menuju satu meja yang terletak besebrangan dengan tempat duduk gadis itu.
Dalam hati Jingga, " Hah, demi apa dia duduk deket gue?" Tapi sorot matanya masih tertuju pada Langit yang kini duduk bersebrangan. Jingga merasa Langit mulai tersenyum kearah diri nya, hal itu tiba-tiba membuat Jingga merasa salah tingkah mengambil minuman dan meminum dengan terburu-buru hingga akhirnya tersedak.
Langit menoleh dengan ekspresi prihatin, "Ehh, lu ngga papa?"
"Ngga papa, sorry ya lu jadi keganggu," jawab Jingga sambil tersenyum canggung.
Jingga merasakan ada hal yang berebeda pada tatapan dan senyuman Langit ntah sesuatu yang sulit untuk Jingga jelaskan tapi terasa begitu nyata. Mungkin saja hal itu hanya Jingga saja yang merasakan tidak dengan Langit tetapi rasanya ada eneregi di antara mereka yang lebih kuat dari pada sekedar sesama penggunjung kafe. Dalam hati Jingga, keraguan dan harapan bercampur aduk yang berhasil menciptakan perasaan aneh serta membuat Jingga ingin tahu lebih banyak tentang pria di seberang meja itu.
To be continued...
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar